Kusebut kau, persetan!

Honestly, kalau bukan karena mereka, ockti gak mau ikut acara ini. Mending juga asik-asikan di Bandung ngerayain ulang tahun Bandung yang jelas-jelas lebih seru dan menyenangkan dari ini.
Jaga omongannya, kak! Gak perlu pake emosi. Bisa baik-baik kan ngomongnya? Atau memang perlu dengan bentakan? Tegur baik-baik, enough!

Jatinangor, Sabtu, 27 September 2014. 21:36. Bete. Banyak kembang api.

Hari ini aku melepaskannya. Apakah aku benar-benar melepasnya? Kejadian ini sudah berulang kali terjadi. Tapi, tidak seserius ini. Tuhan, aku merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa aku melepas orang yang selama ini selalu ada di hari-hariku? Apa ini terlalu jahat? Melukai hati seseorang yang begitu tulus. Apa hati ini terlalu naif? Pikiranku mengacau satu malam tadi. Banyak kata yang aku lontarkan, membuat dirinya tercengang, tapi aku hanya bisa meneteskan air mata atas perkataanku padanya. Aku tahu, kata-kata itu menusuk relung hatimu. Bahkan, kau bilang sama sekali tak ada di pikiranmu, tak terlintas untuk pergi meninggalkanku. Kenyataannya, aku pergi meninggalkanmu. Kenyataannya, aku menyakitimu. Dan terimalah kenyataan itu. Walaupun aku tahu itu pahit rasanya. Satu malam itu benar-benar malam yang hening. Padahal banyak bintang di atas kami. -Tuhan, aku merasa sakit. Mengapa kau kirimkan malaikat sebaik dan setulus dia? Aku tak sanggup melihatnya tersakiti. Tapi aku harus berlaku seperti itu. Sudah sering aku melukainya. Namun, katanya, aku tak pernah melukainya. Tuhan, ciptaan-Mu meluluhkan hatiku. Kata-kata yang keluar dari bibirnya, entah benar atau hanya bualan, tapi aku suka. Tuhan, kumohon, jaga dia untukku.- Aku pulang. Kamu pulang. Kau kedinginan, kupeluk dirimu. Maaf, aku tahu harusnya ini tak terjadi. Aku pulang. Kucium tanganmu. Kau juga. Rasanya berbeda. Sakit, entah kenapa. Kau mengantarku, ada perasaan yang ganjil. Hati-hati. Aku mencintaimu.


Bandung, Sabtu, 23 Agustus 2014. 09:33 Pagi. Kuharap hari ini indah.

R. Ockti Karleni

Air dan Pohon

Menyusuri jalan sepanjang lebih kurang 80 kilometer per hari bukan perkara mudah. Terkadang menyenangkan, ada juga yang menjengkelkan. Aduhai, perjuangan untuk mendapat secarik kertas memang tak mudah.
Belum lagi, dalam perjalanannya terdapat ujian yang mungkin membuat iman goyah. Eh, ngomong-ngomong, kau tahu iman kan? Bukan! Bukan dia yang kurus tinggi itu, tapi iman yang ada dalam dirimu. Baiklah, lupakan tentang hal itu.
Hmm… Beberapa lembaran dalam buku itu membuat saya terkikik. Cerita mengenai dua orang yang sedang mabuk —bukan alkohol— selalu dapat menguras emosi. Iya, yang katanya sedih, senang, marah, tangis, tawa, entahlah apalagi.
Sejauh ini, semua berjalan baik-baik saja. Air mengalir tetap pada arusnya. Tidak membuat cabang yang baru. Bahkan ranting, atau jangan-jangan akar. Ini air atau pohon?
Ah, bangunlah dari tidurmu! Jangan banyak mengkhayal. Dia tak semudah itu. Kalau kau tahu, saya sedang bergurau, atau bercerita. Entahlah.

Bangku merah, Jatinangor. Jumat, 22 Agustus 2014. 12:38 Siang. Panas terik. Menunggu. Lelah.

R. Ockti Karleni

See What Happens

See
What




Happens

Someone thinks, almost is never enough.
When qwerty keyboard spread your world, nobody can changed you.
There’s no communication between you and beside you.
You just talking or chatting with another guy or someone in somewhere.
I thought, Einstein’s right.
And he’s really right.
Don’t mention. Everybody changes his and her life with unproductive life.
Is it looks like me?
Maybe, yes. This is one of all unprods life.
But, it’s no! If the reason told that it’s one of another way to share.
Don’t care.
Just stay with calm in there. Finding yourself is not recommended for this time.
Just… enjoy your life.

Pasteur, Bandung. Kamis, 21 Agustus 2014. 07:02 Pagi. Cicit burung. Sinar mentari. Sejuk. Hangat.

R. Ockti Karleni

Keluh yang Berpeluh

Kepada meja. Kepada besi. Aku ingin berlari. Sebab ini takkan lama. Kepada ranjang yang merindukan goncangan sepasang kekasih. Masih tetap menjadi saksi. Terdiam di sudut ruangan sempit berukuran 2x4 meter itu.
Haha, dia takkan datang. Padahal, kaulihat? Umur kemerdekaan Indonesia pun begitu membuatku berpeluh. Enam puluh sembilan umurnya. Membuatku sangat bersemangat.
Ayolah, tak mungkin jika kau hanya duduk lesu. Sudah kusiapkan gaun itu untukmu. Enggankah berfantasi di atas kotak empuk itu?
Naif kau! Bangsat! Gila!
Anjing! Anjing itu menggonggong di malam tak bercahaya. Lihat saja, bintang tak ada. Tertutup awan, atau kabut. Persetan!
Sudahlah! Biarkan saja apa maunya dia! Aku muak! Terlelap, tenggelam di antara kapuk. Kusebut itu pantai indah kapuk.

Pasteur, Bandung. Rabu, 20 Agustus 2014. 07.57 Malam. Lelah.

R. Ockti Karleni

Unfinished

Harapan itu hancur berkeping-keping. Mungkin. Setan terus menggelayuti tubuh dan pikiran ini. Membawa ke alam yang disebut surga dunia. Mengikuti nafsu belaka tanpa memikirkan konsekuensi atas perlakuannya.
Nyatanya, semua telah sia-sia. Melakukan hal untuk mendapatkan hal dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Hanya bisa menangiskah engkau? Berharapkah kau akan waktu yang berulang?
Tak lelahkah kau menjalani kehidupan yang diselimuti topeng anonim?
Mungkin, aku akan berlari mencari air terjun untuk kurebahkan bebanku dan membiarkan air membawanya pergi mengikuti arus itu.

Bandung, Selasa, 19 Agustus 2014. 11:38 Malam. Mendung. Mengantuk.

R. Ockti Karleni

Dilema Bahagia

Setelah rasa ini ockti pendam dan kubur dalam-dalam, kau hadir menggali rasa itu kembali dan berhasil menumbuhkannya hingga menjadi bunga yang indah. Luar biasa. Butuh hingga satu tahun untuk menguburnya, dan kau? Dengan mudahnya menggali semuanya dalam hitungan detik.
Akhirnya, bunga itu benar-benar mekar di seluruh aliran darah ini. Tubuh ini seketika mengejang tak terelakkan. Sungguh, semuanya membuat ini semakin rumit. Bahkan, ockti tidak sanggup untuk memejamkan mata.
Setiap detik yang ockti lalui malam tadi, begitu indah. Walau hanya sekejap, ockti menganggap segala sesuatunya begitu bermakna. Tawa, canda, senyum yang bertebaran, hingga tatapan matanya begitu menyentuh palung hati ini.
Kau! Ockti hampir saja berhasil mengembalikan rasa yang sempat hilang ini padanya. Ah, mudah kau datang. Tentu saja, rasa untuknya hilang kembali.
Terima kasih. Setiap bagian yang ockti ambil malam itu, ockti yakin untukmu juga, adalah bagian yang tidak mungkin dilupakan. Untuk pertama kalinya, dalam hidupmu dan hidup ockti.
Terima kasih. Nyamannya Warjok, nikmatnya Baskin Robbins, dan untuknya Sancha. Melangkah dengan ragu di depan TJ yang berhenti. Salamnya, yang membuat hati ini bergetar, lambaian tangannya yang mengatakan, “ku taksanggup meninggalkanmu,” dan tatapannya “aku tak ingin pergi,” seketika mengucurkan keringat yang selama ini tertahan. Selamat tinggal. Bertemu sampai raga ini di pelabuhan entah di mana. Entah kapan.
Dilema ini akan selalu ada. Jika bintang itu muncul, kabarkan bahwa itu tanda. Jika bulan itu terang, sampaikan bahwa itu tanda. Berkelip. Menari. Berucap dalam kesunyian malam.
Ada hati. Ada hati yang selalu hadir. Tak perlu takut. Tak perlu cemas. Sebab, ialah Tuhan yang menjadikannya indah melalui rencananya.

Pondok Indah, Jakarta. Senin, 11 Agustus 2014. 01.48 Dini hari. Bahagia. Dilema.

R. Ockti Karleni

Serba Salah

Serba salah. Serba salah banget. Inginnya berbuat baik sama siapapun tanpa mengharapkan apapun. Tapi, kalau keadaannya kayak gini, mana bisa? Baik sama yang satu, yang lainnya ngamuk. Baik sama yang lain, yang satunya ngamuk. Padahal semua baik-baik aja beberapa hari yang lalu.
Semua orang punya hak kan? Boleh dong ockti melakukan hak yang ockti punya? Apakah hak seseorang bisa beli? No! Itu gak bisa dibeli, bahkan priceless but precious. Dengan kamu punya harta, bukan berarti semuanya bisa dibeli dengan uang.
Belajar menghargai seseorang, kurangi egois, dan belajar untuk selalu sabar dan ikhlas. Itu kunci kebahagiaan sesungguhnya. Oh ya, selalu inget bersyukur. Semuanya akan terasa indah. Menerima keadaan tanpa mengeluh adalah nikmat yang luar biasa.
Sulit memang berada di posisi seperti ini. Ah, inginnya berlari sambil berlalu dari keramaian. Kalau mau menyalahkan, salahkan saja ockti. Jangan salahkan mereka yang gak tau apa-apa. Toh sesungguhnya mereka tidak pernah memaksa, itu kemauan ockti sendiri. Mereka tidak pernah menghasut, ockti yang memilih jalan seperti ini kok.
Sebenarnya, ini adalah untuk dia. Kebahagiaan dia. Walaupun dia memiliki kekurangan, dia tidak pernah merasa lemah. Dia bisa melakukan apapun yang dia mampu. Bukan menjadi orang yang selalu menunjuk dan memerintah seenaknya.
Dia berpikir secara rasional, walau terkadang emosinya tidak stabil. Dia bisa mendengarkan orang lain, dia mau melakukan itu. Dia menimbang baik dan buruk. Dia ingin melakukan yang terbaik walau itu sebenarnya merugikan diri dia sendiri. Dia lebih baik.
Maafkan, kalau selama ini ockti kurang berlaku adil dalam membagi diri. Ini benar-benar posisi yang sulit. Ockti gak mau kalo ada hati yang terluka.
Sejujurnya, ockti ingin kita bersama, bukan memihak pada seseorang saja. Camkan, ockti tidak pernah memanfaatkan situasi yang ada. Selama ini, ockti hanya menuruti keinginan kalian. Kalau pun ockti menginginkan sesuatu, ockti selalu meminta izin terlebih dahulu kan?
Dan kenapa sekarang ockti merasa gak enak dengan kondisi seperti ini? Satu langit namun beda paham. Haha, apalah itu namanya. Mungkin ockti sedang mengeluh? Ya, mungkin.
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Maafkan segala khilaf yang pernah ada. Terima kasih untuk segala yang telah diberikan. Akan ockti balas sebisa dan semampu ockti.

Bandung, Kamis, 07 Agustus 2014. 05.21 Subuh. Insomnia untuk kesekian kalinya.

R. Ockti Karleni.